Tadi sore abis nganterin temen dari kampus, dia ada janji sama dosennya. Dia kan lagi skripsi, udah tinggal bab II katanya. Semuanya sampe bab III, tau gak dia tuh ada janji sama dosen tapi dia sama sekali belum tau yang namanya pak Akun itu yang mana, aneh yaa!!
Kata dia si, pak Akun itu emang bukan dosen dia, makanya gak kenal ( mode on `pembelaan` )
Dan aku pun bercampur baur sama mahasiswa yang lainnya, heheh seperti mahasiswa beneran ( Emang, aku bukan mahasiswa?? ) Tidak tau mengapa, rasa rasanya aku tidak merasakan kalau aku seorang mahasiswa
Mungkin karena gak ke kampus setiap hari, tidak ketemu dosen, dan jarang sekali ketemu teman2 mahasiswa yang lain. Ughh,.. sebenernya aku pengen seperti orang lain kuliah di perguruan tinggi pada umumnya. Ku pandangi gedung di sekitar kampus UNAS ( Universitas Nasional ) ini, aku lihat ada beberapa `cowok berandal` yang sedang climbing heheh, ituloh yang manjat2 kayak tembok pake tambang, kenapa aku bilang berandal itu tidak lain karena penampilan mereka yang acak acakan, masa ada yang pake sarung segala. Ahh, mungkin mereka mahasiswa seni kali, solanya penempilannya cuex abiz.
Aku kira mereka mau mengakhiri kegiatan`manjat tembok` alias climbing itu. Ternyata tidak mereka menruskannya, padahal itu letaknya percis di sebelah masjid. Apa mereka nomuslim yaa?? gak tau dehh.
Lama banget aku dan dia nungguin yang namanya pak Akun itu, kata temennya dia si pak Akun itu orangnya kecil dan pendek, coba lihat saja di ruangan itu~sambil menujukan ke sebuah ruangan dosen, sepertinya tidak ada. ” tunggu saja, sebentar lagi juga dateng, dia kan ada kelas” begitu kata Viti temennya dia yang berkulit putih, katanya si dia itu keturunan cina. Dan setelah aku denger, ternyata dia juga bisa ngomong bahasa `planet` alias bahasa sunda
. Setelah aku tanyakan sama mbak ku itu, ternyata memang cewek itu tinggalnya di bogor, “owhh pantess ” mulutku membulat.
Aku kembali menerawang, aku membayangkan bagaimana jika sendainya menjadi mahasiswa yang benar2 mahasiswa
. Seandainya saja waktu itu ibuku jujur padaku, memberitahukan bahwa aku di terima di STIE PASIM itu, mungkin aku sudah menjadi seorang mahasiswa beneran, aku selalu beranggapan bahwa kuliah yang aku jalani sekarang tidak sebenarnya, ya mungkin karena tadi itu jarang sekali ke kampus, bisa di itung dengan jari.
Ahhh, entahlah aku jadi merasa `iri` sama mereka yang bisa melanjutkan sekolah ke PT/PTN. Aku tidak tau, apa aku sekarang sudah kufur terhadap nikmat yang di berikanNYA???
Aku bertakad dalam diri, bahwa keturunan2 ku harus bisa sampai sarjana biar bisa menjadi tukang insinyur
, aku ingin keturunan2ku kayak akan ilmu. hmmm,….semoga saja!!!
Akhirnya dosen yang di tunggu2 sejak sore tadi pun, dan ternyata memang benar pendek kecil, tapi saya yakin ilmunya tidak sekecil dan sependek orangnya
